Gala Balet Indonesia ke-2: An Incusive Dance Event

InfoGaya – Kesuksesan Gala Balet Indonesia pertama di tahun 2015, menginspirasi BALLET ID untuk mengadakan kembali Gala Balet Indonesia kedua

yang mengangkat tema An Inclucive Danca Event atau Kesetaraan Menari Untuk Semua Manusia Tanpa Batas. Hal ini dijewantahkan dalam penciptaan tarian-tarian balet kontemporer baru yang melibatkan kerjasama dan kolaborasi khusyuk antara penari difabel (berkebutuhan khusus) dan non-difabel Indonesia maupun International. Istimewanya, Gala Ballet Indonesia ke-2 di tahun 2017 ini sudah dibuka dengan serangkaian aktivitas seperti audisi, kursus, bengkel tari dan kolaborasi yang dimulai sejak bulan Juni 2017. Salah satunya adalah tarian CANdoDANCE yang diusung oleh kelompok tari Candoco Dance Company dari Inggris.

Atas dukungan British Council Indonesia, penari-penari Indonesia yang terpilih lewat audisi langsung yang dilaksanakan oleh Ballet ID dengan didampingi oleh dua penari Candoco Dance Company: Tanja Erhart dan Mirjam Gurtner, mendapatkan kesempatan untuk berlatih, bertukar pikiran dan pengalaman dengan salah satu grup tari pertama di Inggris yang berkiprah selama 26 tahun dalam memfasilitasi dan membuka pintu seni tari lebih luas untuk penari difabel.

“Tarian CANdoDANCE adalah sebuah bentuk nyata kolaborasi Indonesia-Inggris dalam kerangka hubungan kreatif kedua negara, yang merupakan wujud nyata tentang arti keberagaman sesungguhnya. Kami ingin menunjukkan bahwa bagaimana keterlibatan kreatif semua orang, tanpa menghiraukan keterbatasan mereka, dapat memperluas kesempatan berkreasi yang menguntungkan semua pihak,,” ungkap Paul Smith, Direktur British Council di Indonesia mengenai alasan kolaborasi British Council dengan Ballet ID.

Sementara Mariska Febriyanti, salah satu pendiri Ballet ID mengakui bahwa pada awalnya ia memiliki keraguan akan kolaborasi tari yang baru pertama kalai diadakan di Indonesia ini. “Saya tidak pernah menari bersama penari difabel dan kerap mempertanyakan diri apakah saya mampu lekakukannya. Awalnya saya pun merasa tidak mampu utuk mengajar tari kepada teman-teman kita yang difabel.”

Namun setelah kembali dari Festival Seni Unlimited yang menampilkan karya seni panggung seniman difabel internasional di Inggris, Mariska mualai berpikir sebaliknya. “Yang membatasi manusia itu bukan karena fisiik yang berbeda, melainkan ketakutannya akan sesuatu yang sebenarnya hanya ada di kepalanya. Dan ketakutan inilah yang ingin kami (Ballet ID) berusaha tepis di rangkaian tari Gala Balet Indonesia ke-2: An Inclucive Dance Event. Bahwa keberagaman bukanlah untuk ditakuti tapi harus dirayakan dengan energi positif untuk salang berkarya dan menari bersama,” ujar penari lulusan sekolah tari Ev & Bow Australia dan pernah menjadi penari tetap Bangkok City Ballet.

Bagi Tanya Erhart dan Mirjam Gurtner, pengalaman menari bersama penari difabel dan non-difabel Indonesia dalam sesi bengkel tari Ballet ID yang berlangsung dari tanggal 2- 8 Juli 2017 ini memberikan kesan tersendiri. “Ketika pertama latihan, kami semua datang dari background yang berbeda. Namun melalui proses kreatif yang kami lalui tipa hari, akhirnya semua individu bisa membaur menjadi satu kesatuan dan bersama-sama mencari bahasa artistik serupa. Setiap penari menciptakan gerakan mereka sendiri dan hal inilah yang membangun rasa kepemilikan terhadap gerakan tari tersebut.” ungkap Mirjam Gurtner yang menjabat sebagai direktur latihan dan koreografer di Candoco Dance Company. Lalu tantangan terberat apakah yang harus dihadapi selama latihan kolaborasi ini?

“Saya Tidak Bisa Karena Saya Cacat adalah tantangan terbesar yang saya temukan di semua komunitas penyandang cacat di mana pun. Ketika kita membatasi diri dengan kata ‘tidak bisa”, maka akan sulit untuk melangkah ke depan. Selain itu, batasan dalam masyarakat juga semakin merintangi untuk beradaptasi dan berkreasi. Misalnya dengan tidak adanya akses masuk ke studio tari yang ramah terhadap penari difabel. Kita perlu membuat dunia tari lebih mudah dimasuki oleh siapa pun yang berminat untuk menjadikan penari,” ujar Tanya Erhart yang kehilangan kakinya sejak umur 6 tahun, namun tak memudarkan semangatnya untuk tetap menari dengan ‘tiga kaki’ (bersama kursi roda atau tongkatnya). Sejak tahun 2014, penari yang berpredikat sarjana anttropologi ini bergabung dengan Candoco Dance Company di london.

Proses tari CANdoDANCE dimulai dengan audisi yang menyaring sekitar 30 orang penari menjadi 14 penari yang terdiri dari 6 penari difabel bisu-tuli dan 8 penari Non-difabel ke-14 penari ini datang dari berbagai kiblat di dunia tari. Mulai dari tari tradisional, belet klasik, tari kontemporer, hip hop bahkan K-Pop Dance. Tak hanya kiblat tari yang berbeda, kehidupannya pu tak melulu diwarnai dengan menjadi penari profesional. Ada juga yang memiliki pekerjaan sebagai desain grafis, pemain pantomim, mahasiswa tingkat akhir dan juga penjaga warung orang tuanya. Namun mereka semua memiliki kesamaan yaitu kecintaan kepada kehidupan dan semangat untuk terus maju berkarya melampaui keterbatasan diri sendiri yang tidak bisa mendengar dan berbicara.

Sealain tarian CANdoDANCE oleh Candoco Dance Company yang berasal dari Inggris, Gala Balet Indonesia ke-2: An Inclusive Dance Event ini juga akan menampilkan penari-penari international difabel don non-difabel dari negara lain seperti Australia, Perancis, Korea Selatan dan Italia. Gala Balet Indonesia ke-2: An Inclusive Dance Event akan berlangsung tanggal 23 September 2017 dengan dua kali pertunjukan siang dan malam. Penjualan tiket EARLY BERD dibuka muali senin 10 Juli 2017 – 10 Agustus 2017, lewat www.loket.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *